|
Bersih Pantai, Aksi Nyata Mahasiswa Cegah Pemanasan Global
Miftahhurrahman - 14 May 2008
Pada 16-18 April 2008, Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia (IMTLI) mengadakan Rapat Koordinasi Nasional di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Agendanya adalah Evaluasi Kegiatan Pengurus Besar IMTLI dalam pertengahan periode kepemimpinannya, menghadiri Seminar Nasional Global Warming di Undip, dan kegiatan Resik Pantai (Bersih Pantai) yang diadakan di Pantai Maron, Semarang, Jawa Tengah.
Pada 17 April 2008, Para Anggota IMTLI mengikuti Seminar Nasional Global Warming yang dilaksanakan di Gedung Prof. Sudharto, SH., UNDIP. Pada sesi tersebut Dadang Hilman dari Kementrian Negara Lingkungan Hidup menyatakan bahwa Indonesia harus mempunyai Rencana Aksi Nasional dalam menghadapi perubahan iklim yang bersifat dinamis dan dievaluasi secara berkala guna menyesuaikan dengan dinamika perubahan iklim. Adapun bentuk konkrit yang ditawarkan disini adalah komitmen Indonesia melalui mitigasi dan ratifikasi dalam setiap kebijakan yang menyangkut usaha penanganan lingkungan, adaptasi, kerjasama internasional, mekanisme finansial dan transfer teknologi.
Rizaldi Boer dari Institut Pertanian Bogor (IPB) memaparkan inisiatif dan kondisi Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim. Dia menawarkan solusi Planning and Funding Mechanism for Climate Change Program. Isi dari planning ini adalah dalam menghadapi perubahan iklim perlu suatu rencana yang di tekankan pada pembiayaan (funding). Menurut Rizaldi, pembiayaan dapat berasal dari Government Funding (Dana Pemerintah), Loan ( Pinjaman), Grant (Jaminan), Community/Private/NGO`s, dana dari Program Clean Development Mechanism, dan Debt Swap.
Prof. Sudharto P. Hadi dari UNDIP membahas tentang peran mahasiswa dalam menanggulangi pemanasan global. Dalam upaya mahasiswa dalam menanggulangi pemanasan global, Sudharto menawarkan solusi mitigasi dan adaptasi dalam menanggulangi pemanasan global. Adaptasi difokuskan untuk mengembangkan pola pembangunan yang tahan terhadap dampak perubahan iklim dan anomali gangguan cuaca. Dalam hal ini adaptasi difokuskan pada daerah yang rentan terhadap perubahan. Sedangkan mitigasi difokuskan untuk mengurangi laju emisi gas rumah kaca dari berbagai sumber dan meningkatkan laju penyerapan gas rumah kaca tersebut. Contoh konkritnya bagi mahasiswa sendiri adalah mengadakan gerakan penanaman pohon di sepanjang daerah yang potensial menghasilkan gas rumah kaca.
Seminar juga dilengkapi dengan pameran. Di antaranya Stand Alat Teknologi Tepat Guna yang terdiri dari Pengolah Air Minum dengan Teknologi Membran dan Ozon, Pengolah Minyak Jelantah menjadi Biodiesel, dan lain-lain. Ada juga foto-foto tentang lingkungan yang dibuat di dalam sebuah tenda dan diberi timah agar panas dapat masuk dan tidak mudah dipantulkan keluar.
"Hal ini agar peserta yang berkunjung ke acara ini paling tidak ikut merasakan dampak pemanasan global, paling tidak secara simulasi yang kami tampilkan," ujar Arya Reza Gama, Ketua Panitia Seminar Nasional Global Warming.
Bersih Pantai
Pada hari Sabtu,19 April 2004, peserta RAKORNAS IMTLI mengikuti kegiatan Resik Pantai yang diadakan di Pantai Maron (Marina Kulon atau Marina Barat). Tujuan Resik Pantai ini adalah menunjukkan peran mahasiswa dalam pengabdian kepada masyarakat, bahwa mahasiswa dapat menjadi pelopor gerakan cinta lingkungan, terutama di wilayah pantai yang dikenal sebagai area wisata.
Sebagai peserta, penulis yang juga perwakilan Kelompok Studi Lingkungan Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan Yogyakarta menilai acara seperti Resik Pantai seharusnya perlu digalakkan sebagai bukti nyata mahasiswa di lapangan. Ini perlu dilakukan untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa mahasiswa tidak hanya rajin berargument saja, tetapi juga berani menampilkan aksi dan bentuk konkrit dalam menjaga lingkungan.
Menurut ketua Panitia Resik Pantai, Basu Mandira dari HMTL UNDIP, Resik Pantai ini menunjukkan eksistensi mahasiswa dalam menjaga lingkungan dan mendukung perekonomian masyarakat sekitar pantai.
"Harapan kita dapat menyadarkan arti pentingnya bersih pantai dalam usaha menjaga animo wisatawan ke pantai. Jika pantai bersih, wisatawan tertarik sehingga pendapatan masyarakat sekitar pantai yang berjualan, menyewakan perahu, dan sebagainya akan bertambah. Ini berarti kita menjaga lingkungan dan menambah pendapatan masyarakat sekitar," jelasnya.
Selain mengikuti kegiatan Seminar ”Global Warming” dan acara Resik Pantai, para anggota IMTLI juga mengadakan rapat evaluasi yang diadakan di Wisma BALATKOP Semarang, pada 18 April 2008. RAKORNAS IMTLI dihadiri oleh anggota IMTLI yang berasal dari HMTL ITS, KSL (Kelompok Studi Lingkungan) STTL Yogyakarta, HMTL UPN Veteran Yogyakarta, HMTL ITB, dan HMTL UNDIP yang bertindak sebagai tuan rumah.
Sedangkan universitas-universitas lain seperti TL Trisakti , UII Yogyakarta,UNAND Padang, ITN Malang, UNPAS Bandung, dan UI tidak dapat menghadiri RAKORNAS karena tidak bisa dikonfirmasi, dan beberapa karena bentrok dengan jadwal akademis. Acara IMTLI selanjutnya adalah Kongres IMTLI 2008 yang rencananya akan diadakan di Trisakti, Juli 2008.
|