Halaman Depan Halaman Tentang Kami Link-link website Forum Diskusi Online Halaman Kontak Kami
:: INFORMASI ::
BeritaKabar Daerah
Informasi/Data
Media & PublikasiOpini & ArtikelDatabase
:: Mailing List ::
Bergabung dengan mailing list Berita Bumi


:: NewsLeter ::
Berlangganan newsletter Berita Bumi


:: Links ::

 Cari
Informasi/Data » Menjadi Konsumen Organik, Berperilaku Selaras dengan Alam
 

Menjadi Konsumen Organik, Berperilaku Selaras dengan Alam

Ani Purwati - 15 Feb 2010

Menjadi kosumen organik tidak hanya sebatas mengonsumsi produk pangan alami, tak sebatas gaya hidup yang temporer, akan tetapi juga mencakup nilai-nilai kehidupan hakiki yang terkandung di dalamnya, yaitu kejujuran, kesederhanaan dan saling menghargai. Konsumen organik juga berarti konsumen hijau, konsumen berkelanjutan, konsumen yang beretika, konsumen berperilaku selaras dengan alam dan menciptakan keseimbangan bagi kehidupan dengan pendekatan holistik.

Demikian diungkapkan Bibong Widyarti sebagai konsumen produk organik dalam bukunya “Hidup Organik, Panduan Ringkas Berperilaku Selaras Alam,” yang telah diluncurkan oleh Aliansi Organik Indonesia (AOI)msebagai penerbit di Bogor pada Januari 2010 lalu dan diulas kembali dalam bincang-bincang bersama di toko buku Leksika di Jakarta, 14 Februari 2010.

“Tentu saja banyak cara hidup yang bisa dipilih, tetapi cara hidup seperti apa yang akan kita jalani untuk memenuhi semua kebutuhan. Apapun cara hidup yang kita pilih saat ini, akan mempengaruhi kehidupan di masa mendatang, yang akan berjalan seperti sebuah siklus yang berarti juga mempengaruhi kehidupan generasi anak cucu kita,” kata ibu rumah tangga yang mulai menerapkan hidup organik sejak 1997 ini.

Cara hidup organik mengajak kita kembali ke fitrah, saling menghargai semua yang ada di Bumi dan saling bersinergi untuk mencapai keseimbangan. Selain itu juga untuk menciptakan harmoni antara tubuh, pikiran dan jiwa.

Dalam buku setebal 74 halaman ini Bibong menjelaskan bahwa ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menggapai pola hidup organik. Salah satunya kembali mengonsumsi pangan organik atau alami, baik membeli maupun menanamnya sendiri. Perubahan ini kadangkala menimbulkan ketaknyamanan, bahkan perlu biaya lebih, menyita waktu serta tenaga. Namun itulah jalan untuk mencapai cara hidup sehat seraya mempertahankan sumberdaya kehidupan yang berkelanjutan bagi masa depan.

Menurut Bibong, kita pun bisa melakukan pembelian produk-produk yang sehat dan aman ini dengan menentukan kebutuhan dan mengurangi keinginan. Keinginan yang berlebihan sering menjadi tidak terbatas dan kadang justru nampak seperti kebutuhan. Lalu membuat prioritas berbagai kebutuhan yang ada. Prioritas bisa dibuat dengan memetakan kebutuhan primer (utama), sekunder (kedua), dan tersier (pelengkap). Hal ini perlu dilakukan terutama untuk memudahkan mengelola dana yang terbatas.

Yang tak kalah penting adalah memilih produk-produk lokal sehingga lebih mudah memperolehnya dan sesuai dengan kebiasaan setempat. Produk lokal juga hemat energi baik kemasan maupun jarak tempuh pengiriman produk serta meningkatkan ekonomi lokal.

Langkah berikutnya adalah menentukan apa yang kita konsumsi. Setiap makanan yang kita konsumsi akan berdampak pada kesehatan dan vitalitas seseorang. Begitu juga cara membudayakan bahan pangan yang diterapkan, akan berpengaruh pada produk yang dihasilkan. Setiap hari kita berkesempatan untuk mendapatkan makanan sehat dengan memilih bahan pangan berkadar residu kimia sintetik yang rendah. Dengan mengonsumsi produk pangan organik, selain bermanfaat bagi kesehatan tubuh, kita juga mendukung banyak hal yang bernilai posistif bagi masyarakat dan lingkungan.

Pada saat-saat tertentu kita terpaksa atau ingin menikmati makanan di luar rumah yang biasanya kita tidak tahu tentang bahan pangan yang digunakan oleh rumah makan. Maka kita pun bisa menentukan tempat makan yang sesuai dengan kebutuhan kita sebagai konsumen organik. Yaitu dengan memilih tempat makan yang memakai menu dan bahan baku lokal serta bahan pangan organik, memilih menu yang berbahan baku segar, seperti memilih jus yang terbuat dari buah segar, ketimbang jus yang berbentuk konsentrat olahan ataupun produk kalengan yang sudah diperkaya vitamin, pemanis dan pengawet.

Pada hakikatnya semua yang kita konsumsi akan menentukan hasil akhir yang diperoleh. Dan hasil akhir tersebut sangat dipengaruhi pada saat kita menentukan untuk membeli, mengolah, menyajikan, menyantap dan menikmatinya.

Praktik Hidup Organik di Rumah

Dengan menampilkan gambar-gambar foto karya Heri Tabadepu, ibu berputra dua orang ini pun mengungkapkan dalam buku tips-tips hidup organiknya bahwa kita bisa mempraktikkan hidup organik secara nyata dan bisa memberi teladan bagi tetangga, saudara dekat, maupun orang lain yang singgah. Kita bisa melakukan bermacam-macam perilaku organik di rumah, mulai dari mengolah sampah secara bijak, berhemat energi, hingga pemakaian bahan-bahan alami untuk berbagai keperluan rumah tangga.

Mengelola sampah rumah tangga menjadi masalah yang tidak dapat ditunda-tunda lagi karena berdampak langsung terhadap keharmonisan seluruh penghuni bumi. Upaya pengelolaan sampah dari rumah tangga dapat dilakukan dengan menyediakan tempat sampah pada setiap area rumah seperti dapur ruang cuci, ruang makan dan ruang keluarga. Lalu melakukan pemilahan sampah yang dihasilkan dengan tetap memperhatikan kebiasaan anggota keluarga.

Dengan memilah sampah rumah tangga kita memiliki keuntungan seperti mudah menjual atau memberikannya kepada pemulung sewaktu-waktu sehingga memberi penghasilan tambahan, meminimalkan tercecernya sampah ke sungai, perairan atau tanah sehingga tidak mencemari lingkungan. Kita pun bisa membuat kompos dari sampah basah yang bermanfaat untuk menyuburkan tanaman kita.

Bila ingin hidup secara organik, kita bisa menghemat pemakaian semua sumber energi yang ada di rumah. Selain irit, kita juga membantu meringankan krisis energi yang sedang terjadi saat ini. Untuk hemat energi kita bisa memilih dan membeli perangkat elektronik yang hemat energi, dengan memperhatikan adanya label hemat energi pada produk yang dibeli. Kita juga bisa menyesuaiakan kebutuhan alat-alat elektronik dengan kapasitas listrik di rumah.

Kita pun bisa mengurangi bahan-bahan kimia beracun di rumah, yaitu dengan memilih pembersih serbaguna untuk segala jenis barang yang ada di rumah. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran, hemat jenis pembersih dan mengurangi berbagai pembersih lain yang berbahaya. Usahan memilih produk pembersih yang natural atau alami.

Komentar Anda
priscilla st - 09 Jun 2010 22:09:54
Idealnya menjadi konsumen organik, tapi kenyataan yang kita hadapi memaksa kita mngonsumsi pangan transgenik. tahu, tempe, tauge, kecap, sereal, susu kedele snack kentang, cornflake semua berbahan dasar kedele, jagung berasal dari AS kemungkinan besar transgenik. sudah berjalan 30 an tahun. Harus bagaimana?
1 Komentar

Posting Komentar Anda
Nama Lengkap :
Alamat Email :
Komentar :

 

Disclaimer | Term Of Services

Copyright © 2007 KONPHALINDO™ All Rights Reserved
Designed by Internet Media Solutions