Informasi/Data » Pertanian Seperti Apa yang Kita Butuhkan di Era Perubahan Iklim?
Pertanian Seperti Apa yang Kita Butuhkan di Era Perubahan Iklim?
Third World Network - 21 Jan 2010
Perubahan iklim akan mempengaruhi produktivitas pertanian dan kesejahteraan manusia. Secara keseluruhan, diperkirakan bahwa produktivitas tanaman akan menurun pada garis terendah, terutama di musim kering dan daerah-daerah tropis. Hal ini akan meningkatkan risiko kelaparan. Selain itu, mayoritas pedesaan miskin di dunia yang tinggal di daerah-daerah miskin sumberdaya, sangat heterogen dan rawan risiko yang akan paling terpukul oleh perubahan iklim.
Di sisi lain, pertanian melepaskan sebagian besar karbondioksida, metana dan nitroksida ke atmosfer, yang berjumlah sekitar 10-12 persen emisi gas rumah kaca anthropogenik global setiap tahunnya. Jika kontribusi tidak langsung (misalnya konversi lahan, produksi dan distribusi pupuk dan operasi pertanian) ikut dihitung, kontribusi pertanian dapat setinggi 17-32 persen emisi anthropogenik2global.
Tantangannya adalah merancang pertanian yang dapat menyesuaikan dan merespon perubahan iklim, serta mengurangi emisi gas rumah kaca. Tantangan ini dapat dipenuhi melalui keragaman hayati, pertanian berbasis agroekologi.
Hal ini diakui oleh Kajian International tentang Pertanian, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Pembangunan (International Assessment on Agricultural Knowledge, Science and Technology for Development - IAASTD), yang merupakan penilaian pertanian paling komprehensif saat ini1. Beberapa temuan kunci dari IAASTD adalah:
Pertanian masa depan terletak pada keragaman hayati, pertanian berbasis agroekologi (termasuk pertanian organik) yang dapat memenuhi tujuan sosial, ekonomi dan lingkungan.
Ketergantungan pada sumberdaya ekstraktif pertanian industri adalah tidak berkelanjutan, terutama dalam menghadapi iklim yang memburuk, krisis energi dan air.
Teknis perbaikan jangka pendek, termasuk tanaman rekayasa genetik, tidak dapat mengatasi kompleksnya tantangan yang dihadapi pertanian, dan seringkali memperburuk kerugian sosial dan lingkungan.
Pencapaian ketahanan pangan dan mata pencaharian yang berkelanjutan memerlukan jaminan akses dan kontrol sumberdaya oleh petani skala kecil, khususnya perempuan.
Pengetahuan tradisional dan inovasi berbasis masyarakat adalah bagian tak ternilai dari solusi.
Mengapa Agroekologi3 Ramah Iklim
Dengan meningkatkan ketahanan dalam agroekosistem, agroekologi dapat meningkatkan kemampuan untuk terus berfungsi ketika berhadapan dengan kejadian tak terduga seperti perubahan iklim. Ketahanan terhadap bencana iklim berhubungan erat dengan keragaman hayati pertanian; praktik-praktik yang meningkatkan keragaman hayati pertanian memungkinkan untuk meniru proses-proses ekologi alami, sehingga memungkinkan mereka menanggapi perubahan dan mengurangi risiko dengan lebih baik.
Dengan demikian, petani yang meningkatkan keragaman antar spesies, kurang mengalami dampak kerusakan dibandingkan dengan petani konvensional yang menanam secara monokultur. Selain itu, penggunaan keragaman intraspesifik (tanaman yang sama dengan kultivar berbeda) adalah perlindungan terhadap perubahan lingkungan di masa depan.
Praktik-praktik agroekologi yang melestarikan kesuburan tanah dan memelihara atau meningkatkan bahan organik dapat mengurangi efek negatif dari kekeringan disamping meningkatkan produktivitas. Kemampuan menahan air tanah diperkuat dengan praktik-praktik yang membangun materi organik, sekaligus membantu petani menghadapi kekeringan. Selain itu, praktik-praktik penampungan air memudahkan petani mengandalkan cadangan air selama musim kemarau. Praktik-praktik lain seperti penyimpanan sisa hasil tanam, jerami, dan agroforestry, menjaga kelembaban tanah dan melindungi tanaman terhadap iklim mikro ekstrem. Selain itu, bahan organik juga meningkatkan penangkapan air dalam tanah, sehingga secara signifikan mengurangi risiko banjir.
Pengetahuan adat dan tradisional adalah sumber informasi utama tentang kemampuan adaptasi, seleksi terpusat, eksperimental dan kemampuan tangguh petani. Banyak petani mengatasi perubahan iklim dalam berbagai cara, seperti mengurangi kegagalan panen melalui peningkatan penggunaan varietas lokal tahan kekeringan, pemanenan air, penanaman ekstensif, tanaman campuran, agroforestri, penyiangan yang terpilih dan pengumpulan tanaman liar. Pengetahuan tradisional, ditambah dengan investasi yang tepat dalam pembibitan tanaman, bisa menghasilkan varietas baru dengan potensi adaptasi iklim.
Di sisi lain, pertanian memiliki potensi untuk berubah dari salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar menjadi lebih kecil dan bahkan bisa menjadi penyerap karbon, selain menawarkan pilihan untuk mitigasi dengan mengurangi emisi dan penyerapan karbondioksida dari atmosfer ke dalam tanah. Solusinya adalah menyerukan perubahan menuju praktik-praktik pertanian berkelanjutan yang membangun karbon dalam tanah dan menggunakan lebih sedikit pupuk dan pestisida kimia.
Ada bermacam praktik-praktik yang dapat mengurangi kontribusi sektor pertanian terhadap perubahan iklim. Ini termasuk rotasi tanaman dan peningkatan desain sistem pertanian, perbaikan pengolaan penanaman, peningkatan pengelolaan nutrisi dan pupuk kandang, peningkatan lahan untuk merumput dan pengelolaan ternak, mempertahankan kesuburan tanah dan pemulihan lahan rusak, perbaikan pengelolaan air dan padi, pengelolaan pemupukan, perubahan pemanfaatan lahan dan agroforestry.
Diperkirakan bahwa konversi menuju pertanian organik akan sangat meningkatkan penyerapan karbondioksida melalui penggunaan teknik-teknik yang membangun materi organik tanah, serta mengurangi emisi nitroksida hingga dua-pertiga karena tidak ada input nitrogen mineral eksternal dan lebih efisien penggunaan nitrogen. Sistem organik telah menemukan cara untuk menyimpan lebih banyak karbondioksida daripada pertanian konvensional, sedangkan teknik yang mengurangi erosi tanah dapat mengkonversi kehilangan karbon menjadi keuntungan. Pertanian organik juga mandiri dalam nitrogen karena daur ulang pupuk kandang dari ternak dan residu tanaman melalui pembuatan kompos, serta penanaman tanaman polong-polongan.
Catatan:
[1]IAASTD adalah kajian multistakeholder meliputi lebih dari 400 ahli dengan periode lebih dari empat tahun, dan didukung oleh Bank Dunia (World Bank), FAO, UNEP, UNDP, WHO, UNESCO and GEF.
2Antropogenik= segala sesuatu yang disebabkan oleh manusia.
3 Agroekologi adalah ilmu pengetahuan dalam pertanian berkelanjutan atau ekologis.
Dokumen asli dapat diunduh di situs http://www.twnside.org.sg/ (What kind of agriculture do we need in an era of climate change? Third World Network). Diterjemahkan secara bebas oleh Ani Purwati,diedit oleh Lutfiyah Hanim.
Komentar Anda
Nasir,SP M.Si - 04 May 2010 21:54:49 salah satu bentuk ketidakmampuan bangsa ini dalam berdiri di atas kaki sendiri karena selalu berfikir ketimuran sehingga dunia barat menganggap bahwa negara ini akan ikut apa yang mereka sarankan..kasihan negara sekaliber ini tunduk dan patuh terhadap aturan yang di buat dan menguntungkan negara industri,,kenapa kita tidak membuka mata lebar-lebar negara sekecil IRAN berani dengan gagahnya melawan kebijakan dunia barat,,,