Timbul pertanyaan kita, mengapa masyarakat pemukiman Rigaih tidak takut atau khawatir dimangsa buaya? Hanya dengan menjaga kearifan lokal dan selama manusia tidak mengangu serta tetap menjaga tempat satwa buaya atau satwa liar lainnya, maka para satwa akan menjaga kehidupan manusia. Jadi masyarakat pemukiman Rigaih melihat buaya bukanlah musuh yang menakutkan, namun merupakan bagian dari siklus kehidupan yang diberi hak hidup bersama manusia.
Negara-negara peserta (parties) dari Konvensi Keanekaragaman Hayati (KKH) sepakat menyusun peta jalan menuju Rejim Internasional untuk Akses dan Pembagian Keuntungan (International regimes on Access and Benefit Sharing/ABS), pada tahun 2010. Peta jalan tersebut dihasilkan dari proses perundingan dalam Conference of Parties (COP) ke-9 KKH di Bonn, Jerman, yang berakhir akhir Mei lalu.
Akhir-akhir ini, nasib beberapa primata di Indonesia menjadi perhatian dari berbagai kalangan. Beberapa lembaga yang bergerak di bidang pelestarian primata (khususnya monyet dan orang utan) ini menyebar-luaskan atau mengkampanyekan masalah ancaman terhadap jenis primata tersebut dengan berbagai cara.
Kontradiktif, itulah kata yang pantas untuk menjelaskan kondisi Indonesia dengan keanekaragaman hayatinya. Keanekaragaman hayati sebagai aset terbesar negeri ini (mempunyai nilai ekonomis sangat tinggi) justru luput dari upaya perlindungan.