Di saat senja hingga malam hari inilah para nelayan di Krueng Rigaih memulai aktivitas kerjanya untuk mencari nafkah memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka memasang jaring di tempat biasanya mencari ikan, udang dan kepiting. Waktu pemasangan jaring dimulai selepas magrib hingga menjelang subuh atau di pagi hari. Seiring para nelayan memasang jaring buaya Krueng Rigaih juga sudah menunggu.
Seringkali satwa berukuran besar ini mencabik jaring para nelayan Krueng Rigaih. Buaya dengan panjang mencapai 5 meter dan lebar 1 meter ini ikut memburu ikan dan udang yang tertangkap dalam jaring nelayan. Namun para nelayan penyabar ini tidak marah apalagi memaki sang predator Krueng Rigaih. Mereka menerimanya dengan besar hati dan memperbaiki kembali jaringnya yang rusak di pemukiman Rigaih.
Tak jarang buaya yang berumur 3-8 bulan juga masuk ke dalam jaring. Namun nelayan melepasnya kembali, tidak membunuhnya. Ada juga warga Lhokbot, pemukiman Rigaih, Kecamatan Setia Bhakti, Kabupaten Aceh Jaya ini yang memeliharanya satwa yang mereka sebut buya ini.
Bagi warga setempat yang mengalami tsunami paling parah, keberadaan buaya bukan suatu ancaman dan masalah, namun menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi. Dengan penghuni rawa ini, di malam hari bisa terlihat cahaya berasal dari mata merah menyala di atas air yang tajam menatap. Warga sudah terbiasa dengan keberadaan sang raja penghuni Rawa Krueng Rigaih. Pada intinya penghuni Krueng Rigaih ini tidak boleh diganggu oleh sipapapun meski populasinya semakin bertambah.
Sebelum bencana tsunami menghantam pemukiman Rigaih, habitat buaya tidak berkembang pesat. Namun setelah tsunami, habitat mulai terbagi. Sebagian hidup di rawa sungai di kawasan atas Gampong Lhokbot dan sebagian hidup di sungai kawasan bawah Gampong Sayeung, Lhok Buya dan Lhok Timon. Menurut warga Lhokbot, perberkembangbiakan buaya mencapai puluhan dan ratusan dari berbagai ukuran tubuh. Keberadaan buaya di Krueng Rigaih telah terjadi sejak dahulu kala sebelum datangnya manusia membuka pemukiman.
Persahabatan
Uniknya, buaya-buaya di Rawa Krueng Rigaih seperti sudah bersahabat dengan manusia. Keserasian hidup dua makhluk Tuhan yang berbeda ini terlihat dari sampan yang digunakan nelayan. Mereka bisa hidup berdampingan tanpa ada yang saling menggangu atau terganggu. Para nelayan tidak diganggu sang penghuni Krueng Rigaih yang tergolong jenis Alligator (buaya moncong panjang). Hasil tangkapanpun jarang berkurang.
Buaya-buaya di Krueng Rigaih menyukai wilayah air yang tenang dan rawa berlumpur dengan mangsa utama dari berbagai jenis ikan,udang bangkai maupun satwa air lainnya. Ketika terjadi tsunami, air mencapai Gampong Lhokbot yang dekat dengan kawasan hutan dan bukit. Gampong Lhokbot yang semula seratus persen merupakan kawasan sawah, kini menjadi rawa, Hingga saat ini ditumbuhi tumbuhan liar dan menjadi sarang buaya,
Timbul pertanyaan kita, mengapa masyarakat pemukiman Rigaih tidak takut atau khawatir dimangsa buaya? Hanya dengan menjaga kearifan lokal dan selama manusia tidak mengangu serta tetap menjaga tempat satwa buaya atau satwa liar lainnya, maka para satwa akan menjaga kehidupan manusia. Jadi masyarakat pemukiman Rigaih melihat buaya bukanlah musuh yang menakutkan, namun merupakan bagian dari siklus kehidupan yang diberi hak hidup bersama manusia.
Buaya Krueng Rigaih akan mengganggu manusia jika terinjak atau diganggu. Untuk itu warga setempat tidak memperbolehkan pendatang dari luar daerah menggangu habitat buaya karena ada kekhawatiran sang buaya akan memangsa manusia, Buaya, sang predator utama alam bawah air Krueng Rigaih tetap menjadi bagian kehidupan nelayan pemukiman Rigaih yang selalu menjaga nilai-nilai lokal dan aturan pemanfaatan sumber daya air.
Hingga saat ini buaya-buaya Krueng Rigaih merupakan tantangan yang dihadapi masyarakat nelayan dengan membuang jauh-jauh masalah dan rasa takut. Sebaliknya masyarakat nelayan hidup dengan menghargai salah satu satwa liar yang setiap 5 November diperingati secara nasional sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa (HCPSN) ini.
Foto-foto buaya di Krueng Rigaih: http://haikdepp.blogspot.com/2009/05/rigaih-crocodiles-river-mukim-rigaih.html