Kontroversi Obat Kentang Rekayasa Genetik di Uni Eropa
Ani Purwati - 12 Mar 2010
Makanan rekayasa genetik nampaknya akan kembali pada ranah politik Uni Eropa karena kentang. Menurut IPS (5/3), perusahaan kimia Jerman BASF, memproduksi kentang bernama Amflora menjadi tanaman rekayasa genetik pertama yang mendapat otoritas budidaya oleh pihak eksekutif Uni Eropa, Komisi Eropa, selama 12 tahun pada tanggal 2 Maret. Meskipun banyak dari pemerintah Uni Eropa menentang pengenalan makanan rekayasa genetik atau transgenik (Genetical Modified-GM), perwakilan dari Komisi ingin melanjutkan perijinan varietas baru.
Tahun lalu, usahanya tidak berhasil memaksa Perancis dan Yunani untuk melakukan moratorium penanaman Mon-810, varietas jagung yang dikembangkan oleh Monsanto, multinasional Amerika Serikat. EuropaBio, sebuah kelompok yang mewakili industri bioteknologi, mencatat bahwa beberapa tanaman yang dipertimbangkan di Brussels telah tumbuh di Amerika Utara selama hampir dua dekade.
Willy de Greef, sekretaris jenderal kelompok mengatakan bahwa pihak keamanan pangan berwenang sepenuhnya menilai tanaman rekayasa genetik dan menemukannya tidak menimbulkan ancaman. "Tapi ini tidak pernah menghentikan beberapa aktivis anti-GM untuk menjual cerita lama yang sama," katanya kepada IPS. BASF telah membuang-buang waktu dengan mengumumkan bahwa pihaknya telah mengembangkan jenis kentang lainnya, termasuk satu yang tahan terhadap jenis penyakit yang meluas dan dianggap telah menyebabkan kelaparan yang menewaskan satu juta orang Irlandia - seperdelapan penduduk negara -- di abad ke-19.
Klaim bahwa makanan rekayasa genetik telah diverifikasi secara ilmiah sebagai produk aman dan bisa mengobati kelaparan global akan akrab bagi siapa saja yang telah mengikuti perdebatan panas mengenai efek produk ini. Hubungan yang erat antara para ilmuwan telah memberikan harapannya untuk makanan ini dan perusahaan yang telah berinvestasi di dalamnya. Persetujuan Amflora mengikuti pendapat positif dari Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA) di Parma, Italia. Sejak dimulai pada tahun 2002, otoritas telah melahirkan lebih dari 40 penilaian terhadap organisme rekayasa genetik (GMO), semuanya menguntungkan. Panel GMO tersebut diketuai oleh Harry Kuiper, seorang Belanda yang sebelumnya mengkoordinasi program riset ilmiah yang melibatkan tiga perusahaan bioteknologi terkemuka Bayer, Monsanto dan Syngenta.
Marco Contiero, pengkampanye pertanian Greenpeace mengatakan bahwa 18 dari 21 ilmuwan yang ditugaskan oleh EFSA agar menganalisa aplikasi untuk penanaman pangan rekayasa genetik adalah ahli biokimia "dengan hanya satu atau dua ahli lingkungan." "Jika kita bicara tentang pelepasan organisme hidup ke lingkungan, kita harus memiliki saran dari para ilmuwan yang tahu tentang hal ini," tambahnya. "Masalah kita dengan EFSA adalah bahwa ia tidak memiliki sarana untuk melaksanakan penilaian risiko atau analisis independen data yang diajukan oleh perusahaan-perusahaan."
Dalam EFSA, Komisi Eropa telah memoles informasi kontroversial yang diberikan oleh otoritas lainnya. Organisasi Kesehatan Dunia dan Badan Evaluasi Obat-obatan Eropa mengungkapkan kekhawatiran tentang isu-isu yang berkaitan dengan Amflora, yang mengandung gen tahan terhadap beberapa antibiotik. Sementara pati kentang itu sebenarnya dimaksudkan untuk keperluan industriseperti lem manufaktur, namunperusahaan-perusahaan biotek mengakui bahwa produk dengan kemungkinan besar akan digunakan untuk pakan ternak dan karena itu dapat memasuki rantai makanan manusia.
Rusak Efektifitas Obat
Para pembuat kebijakan kesehatan masyarakat telah memperingatkan bahwa menanam tanaman tahan antibiotik dapat merusak efektivitas beberapa obat-obatan yang dianggap penting dalam mengobati penyakit yang mempengaruhi manusia. Taruhannya bisa sangat tinggi dalam kasus Amflora, seperti yang dirancang untuk tahan terhadap neomycine dan kanamycine, dua obat yang dipakai untuk mengobati tuberkulosis. Di seluruh dunia, 2 miliar orang terinfeksi TB, yang merenggut 2 juta jiwa per tahun. Namun John Dalli, komisaris baru Uni Eropa untuk kesehatan masyarakat, telah membela otorisasi Amflora. Dia mengatakan kepada saluran TV Euronews bahwa kemungkinan kentang merugikan pada upaya mengurangi kematian akibat TB adalah begitu jauh dan hasil penilaian tidak ada bahaya sama sekali bagi kehidupan manusia.
Namun Contiero menepis klaim bahwa makanan rekayasa genetik akan menguntungkan kemanusiaan, hanya sebagai "propaganda". Jauh dari tawaran kemungkinan makanan yang akan membuat sejarah bagi kelaparan, perusahaan biotek sangat rumit terkait dengan sistem industri pertanian yang memperburuk penderitaan. "Monsanto memiliki 90 persen dari GMO di dunia," katanya. "Dan bersama dengan Bayer dan Syngenta, ia memiliki hampir 50 persen dari semua biji. Faktanya adalah bahwa tiga perusahaan - Bayer, BASF dan Pioneer - juga memiliki 65 persen dari pasar pestisida. Perusahaan biotech membeli bibit perusahaan karena ini memberi mereka kendali langsung pada produksi pangan dan harga pangan. Pembuat kebijakan harus sangat serius melihat bagaimana mereka mengendalikan harga pangan. Ini adalah sebuah isu yang cenderung orang-orang lupakan."