Halaman Depan Halaman Tentang Kami Link-link website Forum Diskusi Online Halaman Kontak Kami
:: INFORMASI ::
BeritaKabar Daerah
Informasi/Data
Media & PublikasiOpini & ArtikelDatabase
:: Mailing List ::
Bergabung dengan mailing list Berita Bumi


:: NewsLeter ::
Berlangganan newsletter Berita Bumi


:: Links ::

 Cari
Berita » Lingkungan dan Perubahan Iklim
 
Hari Bumi: Witoelar Himbau Masyarakat Jaga dan Tidak Rusak Alam

Ani Purwati - 20 Apr 2009

Bersamaan dengan Hari Bumi 22 April, Rahmat Witoelar, Menteri Negara Lingkungan Hidup di Jakarta (19/4) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk menyadari karunia alam dan lingkungan hidup di bumi ini dengan menjaga dan tidak merusaknya. Saat ini kualitas alam telah menurun karena degradasi. Hutan dan lahan sudah banyak mengalami kerusakan.

Penebangan hutan ilegal telah mengakibatkan kerusakan hutan yang berfungsi menyerap air dan gas rumah kaca penyebab pemanasan global. Sementara bangunan-bangunan yang berdiri mulai dari kawasan hulu hingga hilir yang melanggar tata ruang telah merusak kestabilan lahan dalam menopang siklus alam.

Dengan kondisi alam dan lingkungan hidup di bumi tersebut, maka upaya strategis perlu digalakkan seperti penggunaan bangunan ramah lingkungan. Bangunan merupakan salah satu faktor yang memberi tekanan pada alam dan bumi ini. Untuk mengurangi tekanan itu, bahan dan desain bangunan harus benar-benar diperhatikan agar tetap bisa menjaga keberlajutan alam dan lingkungan hidup.

 “Bahan bangunan yang digunakan berasal dari daur ulang atau alami seperti bambu. Jangan yang berasal dari semen,” kata Rahmat Witoelar di sela peluncuran buku Easy Green Living karya Valerina Daniel menyambut Hari Bumi, di Jakarta, Minggu (19/4) kemarin.

Demikian juga dalam mencetak buku dapat digunakan kertas daur ulang atau kertas dari bahan baku kayu yang bersertifikasi legal. Sehingga mencegah penebangan ilegal yang marak selama ini.

Lebih lanjut menurut Henri Bastaman, Deputi VI Bidang Komunikasi Lingkungan, Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH), gedung-gedung di pusat kota seperti Jakarta juga perlu memperhatikan keseimbangan lingkungan hidup dan tata ruang sekitarnya.

Selain itu  menurutnya, perlu langkah strategis yang mencegah krisis alam lebih lanjut. Yaitu dengan mengembalikan fungsi alam atau lingkungan hidup dari hulu sampai hilir, seperti menertibkan bangunan yang melanggar tata ruang, mendirikan bangunan ramah lingkungan, menggunakan energi terbarukan, menurunkan eksploitasi alam, menghijaukan hutan kembali dan sebagainya. Sejauh ini KLH bersama institusi departemen lain telah mengevaluasi bangunan-bangunan di hulu (kawasan puncak Bogor) yang melanggar tata ruang. Ada sekitar 250 bangunan vila yang diindikasikan melanggar tata ruang.

“Kami harap pemilik bangunan yang melanggar itu secara sadar membongkarnya sebelum ada pemaksaan menurut proses hukum,” jelasnya.

Karena berbagai bencana akibat kerusakan alam itu telah banyak terjadi seperti banjir, longsor, kenaikan suhu bumi, pemanasan global dan perubahan iklim yang berdampak pada pencairan es di kutub, peningkatan permukaan air laut, perubahan musim tanam yang tidak bisa diprediksi, dan sebagainya.

“Bila krisis alam itu terus berlanjut, maka 10-15 tahun lagi dampaknya pada masyarakat akan lebih parah,” ungkap Bastaman.

Bersama dengan peluncuran buku Easy Green Living karyanya yang berdasarkan pengalaman selama menjadi reporter dan Duta Lingkungan Hidup, Valerina Daniel mengharapkan seluruh lapisan masyarakat dari anak-anak hingga dewasa mau secara bersama menjaga lingkungan hidup.

Menurutnya, menjaga lingkungan dengan membuatnya terus hijau dapat menyelamatkan bumi. Sebaliknya, perilaku yang tidak bertanggung jawab akan membuat lingkungan hidup rusak dan memperparah pemansan global.

Melalui buku tersebut, runner-up Putri Indonesia tahun lalu ini menghimbau masyarakat Indonesia beralih ke gaya hidup yang ramah lingkungan. Tidak perlu menghabiskan uang banyak atau hanya mengharapkan peran dari pemerintah untuk mengatasi masalah lingkungan.

“Kita pun dapat melakukannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Buku Easy Green Living merupakan rangkaian kisah-kisah inspiratif pengalaman Valerina selama menjadi reporter dan duta lingkungan hidup. Buku ini juga berisi kisah perjuangan beberapa pahlawan lingkungan hidup dalam menjaga bumi tetap hijau. Ada pula tips yang dapat dipilih untuk turut menjaga keseimbangan lingkungan hidup. Langkah mudah itu dapat dilakukan di rumah, lingkungan belajar (sekolah atau kampus), kantor, bahkan saat menikmati liburan. Selain itu juga memuat pengetahuan tentang pemanasan global (global warming), penyebab dan dampaknya.     


Komentar Anda
syaiful bachri - 06 Jul 2010 14:15:31
pemerintah tolong lebih tegas terhadap lingkungan dan kebersihan,terutama hal2 yg berdampak buruk seperti: 1.Sampah yg terus bertambah dan tempat pembuangan yg sudah tdk mencukupi, sehingga berserakan dan menyebabkan saluran pembuangan air tersumbat sehingga menimbulkan banjir.Terutama d daerah2 padat penduduk yg tingkat kepedulian masyarakatnya sangat minim sehingga pemerintah bisa lebih tegas. 2.Pemerintah sebaiknya meninjau langsung ke tempat2 yg padat akan penduduknya, karena masyarakatnya yg terus bertambah dan tidak cukupnya lahan sehingga masyarakat2 pendatang memanfaatkan lahan2 hijau dan tmpt saluran pembuangan air yg sehingga menyebabkan banjir, di karenakan lahan hijau yg sudah sedikit dan saluran air yg minim d rusak sehingga tidak ada penyerapan air dan pembuangan air pun tertutup karena di buatnya tempat tinggal yg tidak jelas izinya. Kasus ini bisa d temukan d daerah jakarta barat tambora khusunya yg dlm 1thn sudah hampir 10 x kebakaran yg begitu cpt merambat karena padatnya rmh penduduk dgn sebagian besar rmh terbuat dr kayu yg sanagt mudah terbakar. 3.Kurangnya penghijauan yg semakin minim, lagi2 terutama d daerah padat penduduk dengan lahan2 hijau yg sedikit malah d tebas karena sebagian besar di dirikan rmh2 atau warung yg izinya jg tidak jelas!. sehingga menyebabkan banjir,gersang,polusi dan udara yg tidak baek. Semoga pemerintah bisa lebih peduli dan tegas pd lingkungan hidup terutama di daerah/kawasan padat penduduk yang lebih rawan akan musibah sehingga bisa mengurangi tingkat musibah penduduk.
siti roh chayati - 08 May 2010 23:48:39
 bencana alam telah terjadi dimana-mana.. Kita semua juga harus bertanggung jawab...tapi bahwasannya era sekarang siapa yang mau hidup layaknya orang2 terdahulu...yang menjadi masalahnya adalah gaya hidup yang dimana semua orang ingin dipandang lebih...jadi gak mungkin kita mampu merubah keadaan alam sekitar kalau misalnya kita sendiri aja tidak bisa memiliki rasa rendah diri,dan tidak gengsi untuk melakukan hal2 yang dapat memperbaiki alam sekitar..
agung aja - 11 Nov 2009 11:52:04
 saya se7
adetriana - 11 Jun 2009 09:28:46
 masyarakat jika ingin membangun pemukiman sebaiknya lebih memperhatikan menggunakan bahan-bahan bangunannya agar bumi kita tidak lagi semakin rusak,dan lebih melindungi alam.
merza sukamto - 12 May 2009 20:58:52
 Harus segera ditertibkan bangunan liar... baik dipuncak maupun dihulu hilir sungai.. untuk menghindari bahaya banjir atau faktor alam. Sehingga meminimalisir bencana alam. Lingkungan dapat indah berkat kedisiplinan umat manusia dalam menjaga lingkungan hidup.
5 Komentar

Posting Komentar Anda
Nama Lengkap :
Alamat Email :
Komentar :

 

Disclaimer | Term Of Services

Copyright © 2007 KONPHALINDO™ All Rights Reserved
Designed by Internet Media Solutions