Halaman Depan Halaman Tentang Kami Link-link website Forum Diskusi Online Halaman Kontak Kami
:: INFORMASI ::
BeritaKabar Daerah
Informasi/Data
Media & PublikasiOpini & ArtikelDatabase
:: Mailing List ::
Bergabung dengan mailing list Berita Bumi


:: NewsLeter ::
Berlangganan newsletter Berita Bumi


:: Links ::

 Cari
Media » Siaran Pers dan Kutipan Media
 
Berjuang Memperkenalkan Makanan Organik

Jurnal Nasional - 27 Apr 2008

Berjuang Memperkenalkan Makanan Organik
by : Fransiskus Saverius Herdiman

Very Herdiman

very@jurnas.com

WAJAH Sri Widyastuti, 40, tampak mulai letih. Namun ia tetap setia melayani para pengunjung stannya. Ia berapi-api menjelaskan tentang produk yang dipamerkan. Sesekali ia merogoh pecahan ribuan di tasnya untuk mengembalikan uang hasil transaksi dengan konsumen.

Stan berukuran 2 kali 2 meter itu memang sangat sempit bagi pengujunjung yang berjubel. Meski jam menunjukkan pukul 20.05, antusiasme para pengunjung luar biasa. Selain menanyakan informasi, mereka juga datang membeli produk, atau souvenir untuk dibawa pulang. Tentu, produk dan souvenir yang ramah lingkungan.

"Capek, sih. Tapi bagaimana. Tugas saya ‘kan memang menanamkan dan menyebarluaskan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya produk makanan organik,” ujar penanggungjawab pemasaran beras organik Konphalindo ini kepada Jurnal Nasional.

Ini hari ketiga bagi Wiwied--panggilan akrabnya--bersama rekan-rekannya menjaga stan pameran yang diselenggarakan 18-20 April di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Pameran yang mengambil tema Green Festival itu disponsori beberapa perusahan besar dan diikuti puluhan instansi dan lembaga pemberdayaan masyarakat yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup.

Konsorsium Nasional untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia (Konphalindo) adalah salah satu peserta yang mengikuti pameran Green Festival. Konphalindo yang didirikan tahun 1991 ini memusatkan perhatian pada kampanye dan riset. Sejak tahun 2000, LSM ini mulai mengembangkan produk organik seperti: beras organik, kacang-kacangan organik, dan sayuran organik.

Organisasi ini menggalang kerjasama dengan berbagai instansi dan produsen. Salah satu produk yang menarik dan diburu pengunjung adalah plastik ramah lingkungan. Plastik yang berasal dari bahan dasar singkong ini disebut ecoplas.

Karena terbuat dari bahan organik, plastik ini juga mudah terurai oleh bakteri. Beda dengan plastik anorganik yang lazim dipakai, karena membutuhkan ratusan tahun agar terurai. Plastik ini diproduksi oleh Yayasan Dana Mitra Lingkungan (DML), dan dipasarkan oleh Konphalindo.

Sebelum resmi bergabung dengan Konphalindo tahun 1999, Wiwied menjadi volunteer. Awalnya, Konphalindo menggalang kesadaran lingkungan pada akar rumput (grassroot). Karena itu, Wiwied bersama teman-temannya mendatangai ibu-ibu rumah tangga untuk menggalakkan program pengolahan sampah rumah tangga dan membentuk kelompok wanita tani. Kelompok wanita tani ini mengolah lahan untuk ditanami sayuran organik.

Tahun 1999, Konphalindo mengadakan kerjasama dengan Pemerintah Kota Depok untuk program pengolahan kompos rumah tangga. Program ini dilaksanakan di Kelurahan Sukmajaya, Depok. Sedangkan untuk program pertanian terpadu dilakukan di Kelurahan Beiji, Depok. Pertanian terpadu ini dilakukan dengan menyediakan lahan yang ditanami sayuran organik. Program ini berlangsung hingga tahun 2004.

Awalnya, kata Wiwied, program ini cukup berhasil. Namun, dalam perjalanannya, ia menghadapi berbagai kendala. Salah satu kendala terbesar adalah komitmen para peserta, yakni ibu-ibu rumah tangga, untuk terus melanjutkannya. Hingga kini, hanya beberapa keluarga yang terus melanjutkan program ini.

"Menciptakan kesadaran bagi ibu-ibu tentang produk makanan organik sangat sulit. Kita dituntut terus bersama mereka. Karena itu, boleh dibilang program ini gagal," katanya. Tapi ia tak patah arang. Ia yakin, suatu saat pertanian organik akan menjadi tren para konsumen di Indonesia. Keyakinan itu juga didasarkan pada tren pertanian organik dunia yang semakin meningkat.

Tercatat, sampai tahun 2003, total luas lahan yang dikelola secara organik di dunia adalah 24 juta hektare. Total penjualan produk organik di seluruh dunia mencapai US 23 miliar. Pasar produk organik utama dunia--yaitu di Amerika Serikat dan Kanada--juga semakin besar; mencapai 51 persen atau US 11 miliar, disusul Eropa sebesar US 10 miliar (46 persen), kemudian Jepang sebesar US 350 juta.

Pertumbuhan pasar produk organik diperkirakan mencapai 20-30 persen per tahun. Bahkan di beberapa negara tertentu mencapai 50 persen per tahun. Kenaikan nilai penjualan produk organik ini juga dipicu oleh harga premium dan tingkat kesadaran konsumen tentang mutu produk.

Karena itu, Konphalindo coba melakukan segala upaya, termasuk mengubah strategi. Kalau sebelumnya mereka fokus pada kalangan grassroot, kini mereka coba melakukan penyadaran dan kampanye lewat berbagai ajang atau event. Karena itu, setiap kali ada pameran lingkungan, Konphalindo selalu menyempatkan diri membuka pameran.

Menurut perempuan kelahiran Jakarta ini, metode pameran sangat efektif untuk menyebarkan kesadaran berupa kepedulian terhadap lingkungan, khususnya tentang produk organik. "Kita bisa berdialog dengan para pengunjung tentang produk kita dan hal lain berkaitan dengan produk organik," ujar anak perempuan dari empat bersaudara ini.

Pameran, kata Wiwied, mampu mendongkrak omzet penjualan produk organik yang dipamerkan. Beras organik adalah yang paling laris. Juga kacang-kacangan dan kecap organik. Salah satu produk yang juga diincar pengunjung adalah ecoplastik.

Tas platik ini terdiri dari dua model: bertali jinjing dan tanpa tali jinjing. Untuk tas plastik bertali jinjing dijual Rp1500 atau Rp50 ribu per pak (50 biji). Sedangkan tas plastik tanpa tali jinjing seharga Rp35 ribu per pak. Selama tiga hari pameran, pengunjung stan Konphalindo mencapai sekitar 2000 orang.

Selain harus bertahan di tempat duduk, Wiwied juga dituntut menguasai tentang berbagai seluk beluk produk organik. "Kita harus bisa menjelaskan produk kita kepada para pengunjung. Jika mereka mengerti, diharapkan mereka membeli produk organik," ujarnya.

Kantor Konpahlindo yang terletak di Jalan Raya Pasar Minggu Nomor 32 Jakarta Selatan, layaknya gudang pangan organik. Produk pangan organik seperti beras, kecap dan kacang-kacangan di kantor ini diperoleh dari para petani pertanian organik di Jawa Tengah. Antara lain, Yogyakarta, Semarang, Sleman, Magelang, dan Boyolali.

Tren pertanian organik di Yogyakarta telah dimulai sejak tahun 1997, tepatnya sejak berdirinya Usaha Bersama (UB) Sahani (Sahabat Niaga Petani) yang mulai memperkenalkan produk organik. Karena didatangkan dari tempat yang cukup jauh, maka praktis harga produk organik mahal.

Menurut Wiwied, harga produk organik 30 persen lebih tinggi dibanding produk lain. Harga yang lebih mahal ini lebih dilihat sebagai premium cost oleh para konsumen. Karena itu, produk organik ini hanya bisa dijangkau konsumen kelas menengah.

Harga yang lebih mahal inilah yang menjadi salah satu poin penting yang dijelaskan Wiwied saat bertransaksi dengan para konsumen. "Karena itu, kami menjelaskan mengapa produk organik ini mahal. Ini dilakukan untuk menciptakan fair trade, atau perdagangan yang adil," ujarnya.

Meski mahal, Wiwied berbangga karena produk makanan organik ternyata makin diminati masyarakat. Di Indonesia, konsumen produk organik, katanya, telah mencapai 10 persen dari jumlah penduduk. Jumlah yang lumayan besar, tentu. Pencapaian itu dirasa membanggakan di tengah gempuran produk kimia yang merajai pasaran saat ini.

“Boleh dibilang, dari bangun tidur hingga tidur kembali, kita selalu disuguhi dan menggunakan produk kimia. Padahal, penggunaan produk kimia sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Juga dapat merusak lingkungan hidup,” katanya.

Di tengah impitan ekonomi, produk makanan yang terkontaminasi senyawa kimiawi--yang harganya tentu lebih murah--sering menjadi pilihan utama masyarakat. “Namun, persoalan ekonomi sebetulnya bukan alasan utama. Kendala paling utama terletak pada kesadaran,” katanya. n

Kutipan:

Harga produk makanan organik 30 persen lebih tinggi dibanding produk lain. Harga yang lebih mahal ini lebih dilihat sebagai premium cost oleh para konsumen.

 

Selengkapnya: http://jurnalnasional.com/?media=KR&cari=konphalindo&rbrk=&id=46184&detail=Pesona%20Perempuan 


Komentar Anda
vania claressy - 27 Jan 2011 19:30:44
 apakah ada cara lain utk memperkenalkan mknan organik kepd masyarakat luas selain membwt stan?
zulkarnain - 01 Nov 2008 14:04:18
minta dikirimin CD cara bertani organik alamat lengkap Nama: zulkarnain alamat: jln. Lestari Gang Mawar No. 11 Lingk. Penan Kel. Pejararakan Karya. Kec. Ampenan Kota Mataram NTB. disini sangat sulut mendapatkan info tentang pertanian organik. Karenanya saya mihon bimbinganny 
2 Komentar

Posting Komentar Anda
Nama Lengkap :
Alamat Email :
Komentar :

 

Disclaimer | Term Of Services

Copyright © 2007 KONPHALINDO™ All Rights Reserved
Designed by Internet Media Solutions